Catatan Rhenald Kasali : Seorang Guru di Langit Biru

Di sebuah stasiun televisi, di pagi hari, untuk kesekian kalinya saya menyaksikan orang-orang yang tak mampu mengukur resiko.  Setelah puluhan “money game” menerkam rakyat jelata,  kali ini terjadi lagi.  Seorang guru yang menjadi korban diwawancara penyiar televisi,  ia kehilangan banyak uang yang di tanam di Koperasi Langit Biru.
Baca lebih lanjut

Iklan

Catatan Rhenald Kasali : Barefoot College

Di Rajasthan, India, ada sebuah plang  petunjuk menuju sebuah kampung yang jauh dari keramaian. Di petunjuk jalan itu tertera arah menuju kolese tanpa alas kaki (Barefoot College).  Saya pikir, Bunker Roy, yang empunya gagasan membuat sekolah ini benar-benar brilian.  Dalam suatu kesempatan, ia mengatakan kolese ini untuk orang-orang yang buta huruf yang pengajarnya semula juga buta huruf. Nama kolese ini  diberikan sebagai simbol bahwa yang dididik di sekolah ini datang dari komunitas yang tak pernah merasakan pakai sepatu. Inilah komunitas yang terpinggirkan oleh globalisasi yang mayoritas diperankan oleh private sector. Baca lebih lanjut

Catatan Rhenald Kasali : Encouragement!

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.

Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Baca lebih lanjut

Catatan Rhenald Kasali : Terkapar di Tanjakan

Bisnis dan ekonomi sesungguhnya ibarat  menyetir mobil. Diperlukan cara yang berbeda agar berjaya di tanjakan. Gas sedikit dipacu lebih dalam, tetapi gigi perneling dipasang pada posisi 1 atau 2. Seperti biasa, tanjakan adalah pusat kemacetan.

Di jalan tol dalam Kota Jakarta, setiap kali meninggalkan pusat kota dari arah bandara menuju Bekasi, kemacetan selain ada di jembatan-jembatan yang menyeberang perempatan seperti di Slipi, Kuningan, dan Pancoran. Disana jalannya menanjak, dan saya perhatikan tak banyak pengemudi yang piawai menjaga kecepatannya. Hampir semua bergerak melambat, terkesima melewati tanjakan dan mengemudi dengan cara yang sama dengan mengemudi di jalan yang datar.

Demikianlah manusia Indonesia berbisnis dan menjalankan roda ekonomi. Ketika para ekonom dan pengamat menyampaikan ekonomi Indonesia tengah berjaya, kita justru bakal menyaksikan ribuan pengusaha “terkapar” di tanjakan karena ulah sendiri.

 

Kurang Terampil

Saya tentu tidak sedang menakut-nakuti Anda. Sebab, pada dasarnya, saya adalah orang yang selalu optimis. Bagi saya, disetiap keadaan pasti selalu ada celah yang berarti ada harapan. Saya pun nyaris tak pernah “stuck” di jalan tol, setiap kesasar mencari jalan baru, bahkan berani membayar tarif keluar-masuk. Sementara itu, ribuan pengendara terlihat asyik dengan lamunannya bertahun-tahun melewati jalan yang sama, tak mau membayar kesulitan dengan kreatifitas berpikir, atau keluar mencari jalan baru. Aneh ya? di jalan tol kok malah macet. Anda pun membiarkannya.

Seperti itulah kebanyakan pengusaha kita. Di jalan yang menanjak kok malah stuck, terkapar. Inilah realita Indonesia di tengah pertumbuhan ekonomi yang dipuja-puja dunia. Kita harus akui, kita kurang terampil bermanuver di tanjakan. Kurang siap menjadi pengusaha besar.

Dua hari yang lalu saya diminta berbicara di depan Asosiasi Supplier Matahari Department Store. Hari Darmawan, pendiri Matahari pada zaman Belanda dulu, senior dan tetap sehat, masih aktif di asosiasi ini kendati Matahari sudah bukan miliknya lagi. Mendengarkan seorang pembicara lain memaparkan data “ How good Indonesia”, seorang pemasok besar berbisik, “realitanya tidak seperti itu.”

Kami pun berdiskusi. Hari Darmawan mengatakan, “Enam bulan terakhir ini retailer tengah kesulitan. turun sekitar 30 persen.”ujarnya. Hal tersebut dibenarkan oleh semua pemasok. Namun, eksekutif puncak Matahari bilang, “ Kami tidak mengalami penurunan, tetapi kami benar-benar harus bekerja sangat keras, melakukan banyak hal supaya tidak turun.”

Kompetisi di Tanjakan

Demikianlah pengusaha Indonesia di tanjakan. Sebagian besar terkapar, sebagian lagi bisa hidup normal dengan segala manuver agar tidak kesulitan, namun akan ada yang melesat mengambil bahu jalan dengan lampu hazard.

Pengusaha-pengusaha muda Indonesia yang belum berpengalaman juga akan banyak yang terkapar kalau berbisnis “as usual”. Apalagi bila berpikir enak, seakan akan ekonomi bagus akan terbawa arus.

Ekonomi Indonesia per desember 2011 adalah ekonomi yang bagus, dengan peringkat rating kredit yang menggiurkan para investor asing, dengan cadangan devisa sebesar USD 114 miliar dan APBN Rp. 7.200 triliun. Dana-dana investasi akan mengalir deras, rupiah akan menguat. Tahun ini diperkirakan tumbuh 6,5 persen. Ini benar-benar ekonomi tanjakan yang menggiurkan, tetapi bisa melenakan.

Lantas, kesulitan-kesulitan yang akan muncul jarang sekali dibicarakan. Saya coba bantu anda dengan lima masalah berikut ini yang perlu Anda antisipasi.

Pertama, tanjakan itu berarti kompetisi melewati puncak. Semua orang ingin ikut ke atas, membuat tanjakan menjadi crowded. Pemain-pemain asing berdatangan. ASA ( semacam lembaga keuangan mikro dari Bangladesh) segera berdiri di sini. Retailer-retaiker Thailand dan Malaysia juga masuk. Merek-merek bahan bangunan, jaringan restoran, konsultan asing dan segala pemain tumplek di Indonesia.

Kedua, kompetisi berarti perebutan pasar, Anda berbagi kue. Kuenya membesar, tetapi yang berebut lebih cepat lagi membesarnya. Akibatnya, pelanggan Anda bisa berkurang.

Ketiga, kompetisi berarti variety, pasar akan punya variety atau variasi pilihan yang sangat luas. Itu berarti, kota-kota besar tradisional (ibukota provinsi) yang selama ini Anda bidik akan sumpek. Konsumen punya uang, tetapi pilihannya jadi lebih luas, yang dibelanjakan jadi sedikit-sedikit, sementara di daerah pinggiran Aceh, Papua, Mataram dan Bengkulu terjadi sebaliknya.

Keempat, kompetisi mendorong harga turun kepada bawah. Hanya yang melakukan restruksturisasi biaya produksilah yang akan menang.

Kelima, kompetisi juga berarti rebutan sumber daya, mulai bahan baku sampai buruh. Ketika di satu sisi usaha Anda ditekan oleh persaingan harga, Anda juga harus menaikkan tawaran agar buruh Anda tidak hengkang.

Jadi, apa yang harus dilakukan?itulah pekerjaan rumah Anda. Ada sejuta pilihan, dan pilihan yang tepat akan mengantarkan Anda ke jalan yang benar. Pemilihan yang tepat bukan hanya bertahan, melainkan menang. Jangan lagi terkapar, apalagi di tanjakan. Inilah zona baru yang saya sebut sebagai The Cracking Zone. Tumbuh, tapi penuh jebakan.

 

Baca Juga Rhenald Kasali :

Korupsi Orang Kampus

Better Generation

Sekolah 5 Senti

Dilema Proyek

Catatan Rhenald Kasali : Better Generation

Lupakanlah panggung politik yang korup dan banyak kebohongan. Indonesia baru ternyata memiliki harapan di tangan generasi baru yang lahir setelah 1970-an.
Anindya Bakrie (Bakrie), Bari Hammami (Trakindo), Dewi Gontha (Java Jazz), Noni Purnomo (Blue Bird), Petrus Halim (Intraco), Svida Alisjahbana (Femina Group), Ari Batubara (Gemilang Group), Haryadi Sukamdani (Sahid), Sandiaga Uno (Saratoga), Fauzi Ichsan (Standart Chartered), dan masih banyak lagi. Mereka muda, lahir setelah 1970-an, mengenyam pendidikan dasar di Indonesia, tetapi melanjutkan studi di Amerika Serikat atau salah satu negara Eropa. Baca lebih lanjut

Catatan Rhenald Kasali : Sekolah 5 Senti

Senin, 30 Januari 2012

Setiap kali berkunjung ke Yerusalem, saya sering tertegun melihat orang-orang Yahudi orthodox yang penampilannya sama semua. Agak mirip dengan China di era Mao yang masyarakatnya dibangun oleh dogma pada rezim otoriter dengan pakaian ala Mao. Di China, orang-orang tua di era Mao jarang senyum, sama seperti orang Yahudi yang baru terlihat happy saat upacara tertentu di depan Tembok Ratapan. Itupun tak semuanya. Sebagian terlihat murung dan menangis persis di depan tembok yang banyak celahnya dan di isi kertas-kertas bertuliskan harapan dan doa. Baca lebih lanjut

Catatan Rhenald Kasali : Korupsi Orang Kampus

Senin, 11 Juni 2012

Beberapa tahun yang lalu saya pernah menulis tentang pengalaman saya sebagai guru. Disitu saya teringat dengan cerpen Oemar Bakri yang ditulis Fajar Gitarena, seorang guru SD di Jogjakarta. Dia bercerita tentang seorang guru yang sudah 30 tahun mengabdi dan segera pensiun. Namun, kendaraannya tetap sama : sepeda motor tua yang mogok dan bannya sudah menipis. Baca lebih lanjut