Kereta Api Kediri – Wonokromo

Pagi itu, September 2014 kami berangkat menuju Surabaya. Membawa serombongan besar keluarga, kami memilih naik menggunakan Kereta Api. Kenapa harus KA, karena dengar-dengar, KAI telah bertransformasi menjadi angkutan publik yang katanya nyaman.

Seminggu sebelum keberangkatan, kami booking tiket untuk perjalanan Kediri-Surabaya (Wonokromo). Pelayanan pembelian tiket sudah berubah, full computerized, persis booking tiket pesawat. Pembeli harus menunjukkan kartu identitas. Sangat berbeda, batin saya, mbak-nya Customer Service pun sepertinya ramah menghadapi pelanggan. Ternyata, seminggu sebelum keberangkatan, tiket Kediri-Wonokromo sudah ludes terjual. Hanya tersisa tiket berdiri. Karena pertimbangan anak-anak, maka kami putuskan booking seminggu lagi. Dan masih banyak tersedia. Cukup murah hanya Rp. 5.500/orang/perjalanan. Anak kecil/ balita pun harus membayar full.

Dua minggu kemudian, jam 5 pagi, kami berangkat ke stasiun Kediri, karena berdasarkan jadwal, KA berangkat jam 06.00. Setelah telat sekitar 10 menit, kami berangkat menuju Surabaya, masing-masing dari kami menempati kursi duduk sesuai dengan yang tertera pada tiket. Sampai disini Saya merasa banyak perubahan mendasar pada pelayanan KA, mulai booking tiket, sistem menunggu di peron yang mirip bandara, keterlambatan KA yang masih bisa ditolerir, penempatan pada kursi yang tertera di tiket, dan sama sekali tidak ada pedagang asongan plus pencopet, hehe…

Pelayanan plus lainnya adalah kebijakan AC pada tiap gerbong, baik ekonomi maupun kelas diatasnya, ini yang membuat perjalanan nyaman. Selain itu, adanya colokan / stop kontak listrik untuk kebutuhan charger handphone.

Sangat kontras dengan pelayanan KA pada saat Saya masih kuliah sekira tahun 2000-an. Pokoknya ruwet, sampai menggambarkan betapa ruwetnya pun saya berpikir berkali-kali….hehe.
Baiklah kalo anda memaksa saya untuk menceritakan kondisi flashback ke tahun 2000 an tentang ruwetnya perjalanan dengan KA.

Sekira tahun 2000 pertengahan, Saya dan beberapa teman berencana mengunjungi seorang teman yang sedang berduka. Domisili di TulungAgung, maka kami berangkat dari Malang – Tulung Agung dengan kereta Penataran. Pagi itu suasana stasiun Kota Malang sangat ramai, calon penumpang memenuhi kursi peron yang tidak seberapa banyak, bahkan sebagian besar berdiri disepanjang lintasan rel.

Kami  membeli tiket untuk ke Blitar saja. Ini trik, biar lebih ngirit, soalnya petugas KA hanya mengecek tiket sebelum  kota Blitar, bentuk tiketnya pun kecil tebal seperti kertas karton. Ada yang berwarna kuning, biru muda, merah muda, dll.

image

Tidak ada informasi penumpang, hanya informasi KA itu sendiri, tujuan kereta, harga tiket, egois ya…

Yang tak kalah heboh adalah ketika datang gerbong yang kosong, kemudian oleh petugas disiagakan pada jalur menuju Blitar, seketika itu pula, entah siapa yang memberi komando, calon penumpang langsung berhamburan memenuhi gerbong tersebut, tujuannya hanya satu, mendapatkan tempat duduk. Dapat dibayangkan orang berdesakan dipintu masuk gerbong, tua muda anak-anak, berikut barang bawaan mereka yang berkardus-kardus saling berhimpitan. Betapa pada saat itu, untuk mendapatkan tempat duduk adalah suatu perjuangan yang berat.

Karena Saya dan teman-teman belum berpengalaman naik KA pada saat itu, akhirnya kami naik KA jurusan Malang-Blitar dengan posisi berdiri, kondisi gerbong saat itu sangat penuh, tempat duduk yang seharusnya diisi 3 orang, bisa terisi 4-5 orang, penumpang berdiri memenuhi lorong-lorong ditengah antara kursi kanan dan kiri, bercampur dengan kardus, atau karung-karung bawaan entah punya siapa.

Hampir tak ada ruang yang tersisa. Ditambah gerbong yang tidak ber AC pula…tobat. Namun yang bikin saya merasa heran, aneh bin takjub, ditengah suasana yang begitu berhimpitan, berdesakan, eh…pedagang asongan hilir mudik menawarkan dagangan, itupun tidak satu dua orang saja, mungkin puluhan orang…!!

Dalam kondisi tersebut, masing-masing kami harus waspada terhadap copet. Terlena sedikit saja, dompet melayang.
Hingga menjelang masuk terowongan Karangkates, Malang bagian selatan, suasana masih begitu-begitu saja, namun keriuhan terjadi beberapa saat setelah keluar dari terowongan. Di gerbong belakang samar-samar terdengar seorang ibu tua menjadi korban pencopetan.

Pada saat didalam terowongan, lampu dalam gerbong tak semuanya menyala, rupanya pencopet memanfaatkan momen tersebut untuk mengeksekusi korban yang mungkin sudah diincar dari stasiun sebelumnya.

Karena kondisi yang tidak nyaman, saya memutuskan untuk mencari udara segar, dimana lagi kalo tidak disambungan gerbong. Walaupun sedikit terguncang-guncang, saya menikmatinya. Nah, entah kebetulan atau tidak dibelakang saya ada pedagang asongan dengan seorang bapak yang berumur kira-kira 35 tahun sedang membagi uang, uang itu diambil dari dalam dompet, kemudian dompet itu dibuang. Wah, gak salah lagi, pasti ini orang yang mencopet ibu tua tadi. Dasar pengecut omel saya dalam hati.

Mendekati stasiun Blitar, banyak sekali penumpang turun, Wlingi, Talun, dan Garum, puncaknya di stasiun Blitar, hampir 60% penumpang turun. Rupanya masyarakat Blitar banyak yang memanfaatkan KA ini untuk bepergian ke Malang.

Kereta terus berangkat menuju Tulung Agung, keadaan kereta melompong, banyak yang tidur-tiduran setelah banyak yang tidak mendapatkan tempat duduk.
Akhirnya kami turun di Stasiun Tulung Agung.

Berbagai perubahan di tubuh KAI dibawah Ignasius Jonan membawa angin segar bagi pengalaman kita menikmati perjalanan, bukan menjadi pengalaman yang menyedihkan. Bravo KAI…

Iklan