Catatan Rhenald Kasali : DILEMA PROYEK

Senin, 27 Februari 2012

Menembus hutan alang-alang setinggi hampir 2 meter, saya dan tim Rumah Perubahan baru saja meninggalkan Air Terjun Meter di Kabupaten Buru Utara, Provinsi Maluku Utara. Tumpahan airnya tak begitu tinggi, hanya sekitar 15 meter. Namun, volume airnya lumayan buat memutar turbin.

Menurut rekan saya, Eddy Permadi, dengan debit air 100 liter per detik itu, kalau ditarik pipa ke desa terdekat, air terjun bisa dipakai untuk membuat listrik sekitar 12.000 watt. Kami menembus belantara dan melewati sungai berair jernih yang masih dipenuhi batu-batuan besar, ditemani tetua adat Desa Metar dan Weflan. Di beberapa titik kami masih menemui kayu-kayu besar yang dulu pernah dijarah oleh para pemegang HPH. Medannya lumayan berat, namun hutannya telah kemali hidup. Di beberapa sudut kami menemukan luapan air panas yang menyembur dari perut bumi.

Air terjun metar jauh lebih menarik bila dibandingkan dengan aliran lain yang ditemui di desa Kobalahin. Penebangan hutan besar-besaran di desa itu telah mengurangi debit air secara signifikan. Berjalan sejauh 4 km menembus sungai dan bebatuan besar, kami harus kecewa karena air terjun yang menurut tetua adat mengalir cukup deras kini sudah jauh berkurang. Bahkan, jeram setinggi beberapa meter yang dulu dilihat para tetua adat kini sudah hilang karena dipahat para penjarah kayu untuk mendorong kayu ke hilir. Entah kemana perusahaan yang tak bertanggungjawab itu pergi. Yang jelas, mereka telah menimbulkan sejuta kerusakan.

Listrik masuk desa

Mendengar hitung-hitungan daya listrik yang dihasilkan di Weflan, saya sempat berkecil hati. Ia hanya mampumenghaddirkan listrik 600 watt. Padahal, ia harus menarik pipa 700 meter, biayanya besar sekali. Ratusan kepala keluarga (KK) sangat berharap agar listrik segera bisa mengalir. Eddy Permadi, pakar teknologi mikro hidro, membesarkan hati saya. “dua ratus watt terdengar kecil bagi kita yang biasa mendapatkan ribuan watt, tapi bagi orang yang biasa hidup dalam gelap, lima watt sudah berarti sesuatu.”

Raja Wayapo, Manaliling Besan, mengatakan, “Kami ini tidak minta, kami siap bayar. Walaupun dulu kami kasih pada negara tanpa syarat, tanah untuk transmigran, yang seharusnya tidak disertifikatkan kini telah disertifikatkan oleh para penerus. Tapi jalan saja rusak, listrik kami tidak diberi.” ujarnya.

Transmigrasi di Pulau Buru telah berkembang pesat. Merekalah yang menjadi motor penggerak ekonomi pertanian Pulau Buru. Bahkan, pendapatan per kapita mereka telah jauh di atas rata-rata orang Buru. Namun, kesejahteraan yang timpang itu kelak akan menjadi persoalan besar kalau listrik dan jalan saja tak bisa diatasi. Disetiap rumah saya melihat panel-panel tenaga surya yang dibangun pemerintah dua tahun terakhir ini. Sayang, pendekatan yang diambil pemerintah adalah pendekatan proyek : yang penting proyek selesai.
Tenaga surya adalah sumber daya yang bagus, bersahabat pada lingkungan, dan menjadi solusi kalau pemerintah tak menggunakan cara-cara proyek. Mengapa demikian?

Mudah sekali jawabnya. Seperti biasa, bagi rumah tangga, listrik sangat dibutuhkan untuk penerangan pada malam hari. Nah, tenaga surya memerlukan energi penyimpan untuk malam hari, saat matahari tak bersinar. Apa yang harus digunakan?Di Jepang, keluarga-keluarga petani menggunakan gabungan listrik dan tenaga surya, sedangkan “proyek-proyek” pemerintah memakai aki mobil.

Di Desa Metar, panel-panel itu sekarang tinggal menjadi mahkota rumah tanpa fungsi karena aki mobil sudah rusak. Usianya hanya bertahan enam bulan. Untuk mengganti aki 80 Ampere, diperlukan biaya sekitar Rp. 1 juta. Di desa lain, akinya dibuat sentral, yang terdiri atas aki ukuran besar yang sulit didapat. Bagi orang kampung di desa Metar, uang sebanyak itu terasa besar. Kalau tak punya listrik, bagaimana mungkin anak desa memiliki cita-cita menjadi dokter? Belajar saja tidak bisa. Jadi, untuk apa proyek pengadaan listrik masuk desa, atau listrik tenaga surya yang dikejar pemerintah untuk memperbaiki tingkat elektrifikasi ini? Siapa yang harus bertanggungjawab? Kementrian ESDM atau para aparat dinas ESDM di lingkungan pemda?

Saya tidak tahu persis. Yang saya tahu, pendekatan proyek tidak selamanya memberikan solusi terbaik bagi bangsa ini. Kecuali, proyek itu dibuat berkelanjutan. Artinya, setiap enam bulan harus ada yang memelihara, melakukan pengecekan dilapangan, peningkatan kualitas, koreksi, dan seterusnya. Artinya, ya jangan jadi proyek. Jadi program berkelanjutan saja.

Rhenald Kasali : Guru Besar FE Universitas Indonesia, Pakar bisnis dan strategi.

Iklan