Ironi Tahun Baru 2008

Tahun baru selalu diawali dengan hura-hura atau istilah awamnya seneng-seneng menunggu detik-detik pergantian tahun, yang tentu saja hanya ada setahun sekali. “Kapan lagi bisa hura-hura gini kalo gak pas tahun baru gini” kata seorang teman. Sementara sebagian masyarakat kita justru ‘bersenang-senang’ dengan air luberan sungai bengawan solo. Sampai ‘senangnya’ sampai rumah segala pake direndam air.

Jadi ada sebagian masyarakat yang hura-hura dan sebagian lagi justru mengawali tahun 2008 dengan terendam banjir. namun yang perlu diingat, belum tentu yang sekarang bisa hura-hura, tahun depan bisa berhura-hura. Siapa yang tahu datangnya bencana?

Sementara bagi pebisnis yang jeli melihat peluang, tahun baru adalah saatnya panen rejeki. Pengusaha percetakan ramai-ramai memproduksi kalender aneka jenis, dari memajang foto-foto hewan sampai foto-foto manusia yang di ‘hewan-hewankan” yang dibungkus dengan rapi dengan kata ‘seni’. Pembuat terompet tak kalah gesit, jauh hari sebelum hari ‘H’, mereka telah membuat ribuan terompet aneka jenis lengkap dengan topinya, untuk melayani permintaan yang semakin tahun semakin banyak, walaupun tahun baruan diguyur hujan, namun pantang untuk tidak bertret-tet-teet…begitu pula dengan penjual kembang api, makanan kecil, makanan ringan, penual knalpot oblongan, dll.

Sisi lain yang menarik lagi dari tahun baru adalah para peramal yang seolah-olah kebanjiran order untuk meramal tentang nasib orang-orang, jabatan, bencana, artis, dll. Meramal artis yang kawin-cerai adalah ramalan wajib yang harus ada, yang tentunya mengundang sensasi bagi publik untuk sekedar meraba-merab, siapa gerangan artis berikutnya yang bercerai..

Apa kita yang kita dapatkan dari perayaan tahun baru ini? tidak ada sama sekali, selain hura-hura atau pura-pura hura-hura..tidak ada yang tahu bagaimana kita esok hari, bagaimana keluarga kita esok hari, bagaimana desa kita esok hari, bagaimana kota kita esok hari, bagaimana negara kita esok hari..namun sikap pesimis tak mengubah apapun, selain semakin menjerumuskan kita kedalam lembah kecurigaan atas ramalan-ramalan ngawur.

Apapun yang terjadi esok adalah hari yang cerah untuk kita semua..namun apa salahnya menanyai peramal untuk meramal kapan bencana akan terjadi, sehingga setiap malam kita bisa tidur nyenyak tanpa was-was terjadi longsor yang tiba-tiba mengubur kita..

Iklan