KISAH SUKSES : DAHLAN ISKAN

Sudah sejak lama saya mengikuti berbagai catatan ringan maupun berat dari seorang Dahlan Iskan, bahkan sejak saya duduk di bangku SLTP sekira tahun1991, saya sudah terbiasa membaca catatan-catatan beliau yang diterbitkan berkala di halaman surat kabar Jawa Pos. Entah kenapa setiap membaca tulisan Beliau selalu saja saya menyempatkan diri untuk membaca catatannya, mungkin disetiap tulisannya ada berita baru yang informatif, provokatif dan yang pasti solutif. Itu juga mungkin salah satu bentuk cara berkomunikasi Dahlan Iskan pada saat itu dengan publik yang kebetulan adalah pelanggan surat kabar Jawa Pos. Bahkan hal-hal yang ringan tapi sesuatu yang baru pernah Dahlan Iskan tulis yang membuat saya sedikit tersenyum, dan membuat senyum Dahlan Iskan menjadi tambah lebar, hehe Baca lebih lanjut

Iklan

Cara Sederhana Mengatasi Talang Bocor

Bagi kebanyakan rumah yang memiliki talang, pasti pernah merasakan talang bocor. Apalagi saat menghadapi musim hujan. Talang adalah saluran air yang menampung air dari cucuran atap rumah.

Biasanya talang terbuat dari macam-macam material. Diantaranya yang banyak dipakai adalah seng. Bahan yang lain adalah karet, paralon, galvalum, cor semen, walaupun masih ada yang memakai bambu yang dipecah menjadi 2 bagian sama. Biasanya bambu ini untuk sekedar estetika.

image

Masing-masing material mempunyai ciri khas dan daya tahan yang berbeda-beda. Tentunya ketika bocor masing-masing material mempunyai cara dan trik tersendiri mengatasinya. Berikut kita kupas masing-masing satu per satu.

Talang Seng

Bahan seng ini paling banyak dipakai untuk talang, selain daya tahan maupun umurnya bisa mencapai 5-10 tahun, talang seng lebih kuat dalam menahan luapan air hujan. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan talang seng ini adalah meminimalisir adanya lekukan-lekukan, karena apabila terjadi lekukan, biasanya itu adalah awal seng akan mengalami korosi.

Seng tidak akan bertahan lama. Korosi berawal dari lekukan, karena semakin lama, air yang mengendap lama akan membuat seng keropos. Semakin lama semakin melebar.

Cara mengatasi talang seng bocor.
– Pastikan kemiringan talang cukup untuk mengalirkan air hujan.
– Usahakan air tidak menggenang di salah satu sisi seng. Ketika air mengalir, air langsung menuju pipa pembuangan.
– Apabila terjadi keropos, segera bersihkan talang, kemudian bagian yang keropos tadi di isolasi dengan isolasi khusus seng. Isolasi ini khusus untuk talang seng. Banyak dijual di toko bahan bangunan. Isolasi ini berbahan seperti aspal, semakin terpapar panas, isolasi ini semakin erat menempel.
Berikut penampakan isolasi talang seng :

Talang Cor Semen

Talang cor semen biasanya digunakan pada rumah yang berbatasan langsung dengan lahan tetangga. Talang ini mempunyai umur pakai yang tahan lama, bisa mencapai 10 tahunan. Asalkan pembuatannya sesuai dengan prinsip yang benar.

Hal yang paling prinsip adalah membuat kemiringan talang  cor yang signifikan. 5 °-10 ° cukup untuk membuat air langsung amblas dan tuntas. Bahan adukan yang baik jg harus diperhatikan. Karena cor yang tidak padat dapat membuat air merembes masuk. Terlihat seperti rembesan membentuk bocor rambut. Semakin lama, ditumbuhi lumut, dan menyebar kemana-kemana.

Apabila kebocoran telah terjadi, cara mengatasinya adalah membersihkan permukaan cor dari lumut-lumut, kemudian kuaskan cairan penutup permukaan, dipasaran tersedia merk Aquaprof, No Drop, dll. Biarkan mengering dan ulangi sampai 3 x.

Talang Karet

Talang karet juga banyak tersedia di toko bangunan, sifatnya yang mudah dibentuk, memudahkan pemasangan bahan karet ini. Bahan karet ini lebih tahan terhadap genangan air, namun tidak tahan terhadap terik matahari.

Bahan karet akan mudah kaku bila sering terpapar panas. Akhirnya akan pecah, kebocoran bermula dari pecahnya karet yang kaku. Penambalan bisa dilakukan dengan isolasi seng, namun tidak akan bertahan lama. Karena aspal sulit menempel pada karet yang sudah kaku.

Solusi termudah adalah dengan mengganti bagian yang retak tadi dengan yang baru. Mengganti tidak harus semuanya, potong bagian yang retak sekira 0.5 meter, atau tergantung panjang retakan. Buang dan ganti dengan yang baru, semisal talang yang dipotong 0.5 meter, ganti dengan lebih panjang misal 1 meter. Karena fungsinya untuk meletakkan talang baru diantara dua talang lama, dengan posisi dibawah dan diatas. Persis seperti pemasangan genteng. Untuk menghindari melorot, paku disisi- sisinya pada penopang kayu.

Sedangkan talang galvalum, saat ini sedang banyak dipakai karena sifatnya yang tahan terhadap korosi, setidaknya lebih tahan terhadap perubahan cuaca. Namun harganya lebih mahal daripada talang seng.

Untuk talang PVC atau paralon, sebagian besar kerusakan memang terkait bahan PVC yang mudah rapuh bila terkena perubahan rencana. Solusinya mengganti dengan yang baru.

Pada intinya talang sangat vital peranannya dalam rumah, bila tidak segera diatasi, kebocoran bisa merusak kayu usuk, plapon dan lain-lain. Mengatasinya pun tidak sulit bukan?.

Kereta Api Kediri – Wonokromo

Pagi itu, September 2014 kami berangkat menuju Surabaya. Membawa serombongan besar keluarga, kami memilih naik menggunakan Kereta Api. Kenapa harus KA, karena dengar-dengar, KAI telah bertransformasi menjadi angkutan publik yang katanya nyaman.

Seminggu sebelum keberangkatan, kami booking tiket untuk perjalanan Kediri-Surabaya (Wonokromo). Pelayanan pembelian tiket sudah berubah, full computerized, persis booking tiket pesawat. Pembeli harus menunjukkan kartu identitas. Sangat berbeda, batin saya, mbak-nya Customer Service pun sepertinya ramah menghadapi pelanggan. Ternyata, seminggu sebelum keberangkatan, tiket Kediri-Wonokromo sudah ludes terjual. Hanya tersisa tiket berdiri. Karena pertimbangan anak-anak, maka kami putuskan booking seminggu lagi. Dan masih banyak tersedia. Cukup murah hanya Rp. 5.500/orang/perjalanan. Anak kecil/ balita pun harus membayar full.

Dua minggu kemudian, jam 5 pagi, kami berangkat ke stasiun Kediri, karena berdasarkan jadwal, KA berangkat jam 06.00. Setelah telat sekitar 10 menit, kami berangkat menuju Surabaya, masing-masing dari kami menempati kursi duduk sesuai dengan yang tertera pada tiket. Sampai disini Saya merasa banyak perubahan mendasar pada pelayanan KA, mulai booking tiket, sistem menunggu di peron yang mirip bandara, keterlambatan KA yang masih bisa ditolerir, penempatan pada kursi yang tertera di tiket, dan sama sekali tidak ada pedagang asongan plus pencopet, hehe…

Pelayanan plus lainnya adalah kebijakan AC pada tiap gerbong, baik ekonomi maupun kelas diatasnya, ini yang membuat perjalanan nyaman. Selain itu, adanya colokan / stop kontak listrik untuk kebutuhan charger handphone.

Sangat kontras dengan pelayanan KA pada saat Saya masih kuliah sekira tahun 2000-an. Pokoknya ruwet, sampai menggambarkan betapa ruwetnya pun saya berpikir berkali-kali….hehe.
Baiklah kalo anda memaksa saya untuk menceritakan kondisi flashback ke tahun 2000 an tentang ruwetnya perjalanan dengan KA.

Sekira tahun 2000 pertengahan, Saya dan beberapa teman berencana mengunjungi seorang teman yang sedang berduka. Domisili di TulungAgung, maka kami berangkat dari Malang – Tulung Agung dengan kereta Penataran. Pagi itu suasana stasiun Kota Malang sangat ramai, calon penumpang memenuhi kursi peron yang tidak seberapa banyak, bahkan sebagian besar berdiri disepanjang lintasan rel.

Kami  membeli tiket untuk ke Blitar saja. Ini trik, biar lebih ngirit, soalnya petugas KA hanya mengecek tiket sebelum  kota Blitar, bentuk tiketnya pun kecil tebal seperti kertas karton. Ada yang berwarna kuning, biru muda, merah muda, dll.

image

Tidak ada informasi penumpang, hanya informasi KA itu sendiri, tujuan kereta, harga tiket, egois ya…

Yang tak kalah heboh adalah ketika datang gerbong yang kosong, kemudian oleh petugas disiagakan pada jalur menuju Blitar, seketika itu pula, entah siapa yang memberi komando, calon penumpang langsung berhamburan memenuhi gerbong tersebut, tujuannya hanya satu, mendapatkan tempat duduk. Dapat dibayangkan orang berdesakan dipintu masuk gerbong, tua muda anak-anak, berikut barang bawaan mereka yang berkardus-kardus saling berhimpitan. Betapa pada saat itu, untuk mendapatkan tempat duduk adalah suatu perjuangan yang berat.

Karena Saya dan teman-teman belum berpengalaman naik KA pada saat itu, akhirnya kami naik KA jurusan Malang-Blitar dengan posisi berdiri, kondisi gerbong saat itu sangat penuh, tempat duduk yang seharusnya diisi 3 orang, bisa terisi 4-5 orang, penumpang berdiri memenuhi lorong-lorong ditengah antara kursi kanan dan kiri, bercampur dengan kardus, atau karung-karung bawaan entah punya siapa.

Hampir tak ada ruang yang tersisa. Ditambah gerbong yang tidak ber AC pula…tobat. Namun yang bikin saya merasa heran, aneh bin takjub, ditengah suasana yang begitu berhimpitan, berdesakan, eh…pedagang asongan hilir mudik menawarkan dagangan, itupun tidak satu dua orang saja, mungkin puluhan orang…!!

Dalam kondisi tersebut, masing-masing kami harus waspada terhadap copet. Terlena sedikit saja, dompet melayang.
Hingga menjelang masuk terowongan Karangkates, Malang bagian selatan, suasana masih begitu-begitu saja, namun keriuhan terjadi beberapa saat setelah keluar dari terowongan. Di gerbong belakang samar-samar terdengar seorang ibu tua menjadi korban pencopetan.

Pada saat didalam terowongan, lampu dalam gerbong tak semuanya menyala, rupanya pencopet memanfaatkan momen tersebut untuk mengeksekusi korban yang mungkin sudah diincar dari stasiun sebelumnya.

Karena kondisi yang tidak nyaman, saya memutuskan untuk mencari udara segar, dimana lagi kalo tidak disambungan gerbong. Walaupun sedikit terguncang-guncang, saya menikmatinya. Nah, entah kebetulan atau tidak dibelakang saya ada pedagang asongan dengan seorang bapak yang berumur kira-kira 35 tahun sedang membagi uang, uang itu diambil dari dalam dompet, kemudian dompet itu dibuang. Wah, gak salah lagi, pasti ini orang yang mencopet ibu tua tadi. Dasar pengecut omel saya dalam hati.

Mendekati stasiun Blitar, banyak sekali penumpang turun, Wlingi, Talun, dan Garum, puncaknya di stasiun Blitar, hampir 60% penumpang turun. Rupanya masyarakat Blitar banyak yang memanfaatkan KA ini untuk bepergian ke Malang.

Kereta terus berangkat menuju Tulung Agung, keadaan kereta melompong, banyak yang tidur-tiduran setelah banyak yang tidak mendapatkan tempat duduk.
Akhirnya kami turun di Stasiun Tulung Agung.

Berbagai perubahan di tubuh KAI dibawah Ignasius Jonan membawa angin segar bagi pengalaman kita menikmati perjalanan, bukan menjadi pengalaman yang menyedihkan. Bravo KAI…

Catatan Rhenald Kasali : Seorang Guru di Langit Biru

Di sebuah stasiun televisi, di pagi hari, untuk kesekian kalinya saya menyaksikan orang-orang yang tak mampu mengukur resiko.  Setelah puluhan “money game” menerkam rakyat jelata,  kali ini terjadi lagi.  Seorang guru yang menjadi korban diwawancara penyiar televisi,  ia kehilangan banyak uang yang di tanam di Koperasi Langit Biru.
Baca lebih lanjut

Catatan Rhenald Kasali : Barefoot College

Di Rajasthan, India, ada sebuah plang  petunjuk menuju sebuah kampung yang jauh dari keramaian. Di petunjuk jalan itu tertera arah menuju kolese tanpa alas kaki (Barefoot College).  Saya pikir, Bunker Roy, yang empunya gagasan membuat sekolah ini benar-benar brilian.  Dalam suatu kesempatan, ia mengatakan kolese ini untuk orang-orang yang buta huruf yang pengajarnya semula juga buta huruf. Nama kolese ini  diberikan sebagai simbol bahwa yang dididik di sekolah ini datang dari komunitas yang tak pernah merasakan pakai sepatu. Inilah komunitas yang terpinggirkan oleh globalisasi yang mayoritas diperankan oleh private sector. Baca lebih lanjut

Catatan Rhenald Kasali : Encouragement!

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.

Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Baca lebih lanjut

BlackBerry Gemini 8520, Spesifikasi

 

 

 

 

BlackBerry adalah produksi RIM (Research In Motion) yang bermarkas di Kanada. Walaupun akhir-akhir ini perusahaan RIM sedang digoncang badai krisis dengan kemerosotan nilai saham perusahaan tersebut, apalagi ada sebuah artikel yang memberikan gambaran bahwa BB akan musnah pada tahun 2015. Hal ini dikarenakan minimnya inovasi dari RIM, dibanding dengan kompetitor-kompetitor semacam Apple, Samsung, Google, dll.

 

 

Namun berkat meroketnya popularitas BBM (BlackBerry Mesengger), ‘nafas’ BB masih terus berdetak sampai saat ini. Nah, membicarakan gadget BB itu sendiri, ada berbagai macam jenis BB yang beredar dipasaran. Dari BB tipe Gemini, BB Onyx, BB Bold, Torch, dlsb.

 

Beberapa stan counter HP mengakui bahwa BB terlaris selama ini ada pada BB dengan jenis Gemini 8520 atau 8530 , walaupun BB ini terkenal dengan Tipe Gemini, namun BB mempunyai nama asli BB Curve. Berikut spesifikasi BB Gemini / Curve 8520.

 

Spesifikasi BB Gemini / Curve 8520 :

Ukuran & Berat

8530, 8520
Tinggi 4.29 inci / 109 mm
Lebar 2.36 inci / 60 mm
Tebal 0.55 inci / 13.9 mm
Berat 3.7 oz / 105 gr

Kamera & Perekaman media

  • Kamera 2.0 MP
  • Zoom digital 5X
  • Fokus tetap
  • Perekaman video

Pemutar Musik

  • Format video: MPEG4, H.263, H.264, WMV9
  • Format audio: MP3, AMR-NB, AMR-WB, QCELP EVRC, AAC-LC, AAC+, eAAC+, WMA9, Windows Media 10 Standard/Professional

Wifi

  • 02.11 b / g
  • WPA / WPA2 Personal dan Enterprise
  • Bersertifikasi Cisco CCX
  • Akses Wi-Fi® ke BlackBerry® Enterprise Server
  • Akses Wi-Fi ke BlackBerry® Internet Bundle
  • Mendukung UMA (tergantung operator)

Layar

  • Layar berwarna 320×240 piksel dengan resolusi
    tinggi
  • Layar yang peka terhadap cahaya
  • Ukuran font yang dapat dipilih pengguna
  • LCD TFT transmisif
Baterai & masa pakai baterai

8520

    • Baterai lithium-ion 1150 mAHr yang dapat dilepas/ diisi ulang
    • Waktu bicara: Hingga 4.5 jam (perkiraan)
    • Waktu siaga: Hingga 10.5 hari / 252 jam (perkiraan)
Memori
    • Memori terpasang 256 MB
    • Memori tambahan dengan dukungan untuk kartu microSD

 

Nada Dering

  • Nada dering polifonik / MIDI
  • Nada dering MP3
  • Modus getar
  • Indikator LED

 

Tombol dan Pengetikan

  • 35 tombol pada keyboard QWERTY dengan lampu latar
  • Bidang sentuh optik di bagian depan
  • Tombol ESC di sebelah kanan bidang sentuh
  • Tombol Menu di sebelah kiri bidang sentuh
  • Tombol khusus: Kirim, Daya, Putus, Nonaktifkan Suara, VAD (Dapat disesuaikan pengguna), Kamera (Dapat disesuaikan pengguna), Volume/Zoom 2X
  • Tombol Media: Teruskan, Kembali, Putar

 

Bluetooth

  • HSP (Headset Profile)
  • HFP (Handsfree Profile)
  • Integrasi Buku Alamat menggunakan OBEX (Object Push)
  • PBAP (Phone book access profile)
  • SPP (Profil port serial)
  • SSP (Secure Simple Pairing)
  • Audio stereo (A2DP/AVCRP)
  • DUN (Dial-up networking)

 

Keamanan

  • Perlindungan sandi dengan penguncian keyboard
  • Modus tidur
  • Enkripsi AES atau Triple DES dengan BlackBerry Enterprise Server
  • Dukungan opsional untuk S/MIME
  • Validasi FIPS

Jaringan Operator

  • Quad-band: 850/900/1800/1900 MHz Jaringan GSM/GPRS
  • Quad-band: 850/900/1800/1900 MHz Jaringan EDGE

Harga saat artikel ini ditulis BB 8520 Baru Rp. 1.590.000

 

Semoga bermanfaat…

Catatan Rhenald Kasali : Terkapar di Tanjakan

Bisnis dan ekonomi sesungguhnya ibarat  menyetir mobil. Diperlukan cara yang berbeda agar berjaya di tanjakan. Gas sedikit dipacu lebih dalam, tetapi gigi perneling dipasang pada posisi 1 atau 2. Seperti biasa, tanjakan adalah pusat kemacetan.

Di jalan tol dalam Kota Jakarta, setiap kali meninggalkan pusat kota dari arah bandara menuju Bekasi, kemacetan selain ada di jembatan-jembatan yang menyeberang perempatan seperti di Slipi, Kuningan, dan Pancoran. Disana jalannya menanjak, dan saya perhatikan tak banyak pengemudi yang piawai menjaga kecepatannya. Hampir semua bergerak melambat, terkesima melewati tanjakan dan mengemudi dengan cara yang sama dengan mengemudi di jalan yang datar.

Demikianlah manusia Indonesia berbisnis dan menjalankan roda ekonomi. Ketika para ekonom dan pengamat menyampaikan ekonomi Indonesia tengah berjaya, kita justru bakal menyaksikan ribuan pengusaha “terkapar” di tanjakan karena ulah sendiri.

 

Kurang Terampil

Saya tentu tidak sedang menakut-nakuti Anda. Sebab, pada dasarnya, saya adalah orang yang selalu optimis. Bagi saya, disetiap keadaan pasti selalu ada celah yang berarti ada harapan. Saya pun nyaris tak pernah “stuck” di jalan tol, setiap kesasar mencari jalan baru, bahkan berani membayar tarif keluar-masuk. Sementara itu, ribuan pengendara terlihat asyik dengan lamunannya bertahun-tahun melewati jalan yang sama, tak mau membayar kesulitan dengan kreatifitas berpikir, atau keluar mencari jalan baru. Aneh ya? di jalan tol kok malah macet. Anda pun membiarkannya.

Seperti itulah kebanyakan pengusaha kita. Di jalan yang menanjak kok malah stuck, terkapar. Inilah realita Indonesia di tengah pertumbuhan ekonomi yang dipuja-puja dunia. Kita harus akui, kita kurang terampil bermanuver di tanjakan. Kurang siap menjadi pengusaha besar.

Dua hari yang lalu saya diminta berbicara di depan Asosiasi Supplier Matahari Department Store. Hari Darmawan, pendiri Matahari pada zaman Belanda dulu, senior dan tetap sehat, masih aktif di asosiasi ini kendati Matahari sudah bukan miliknya lagi. Mendengarkan seorang pembicara lain memaparkan data “ How good Indonesia”, seorang pemasok besar berbisik, “realitanya tidak seperti itu.”

Kami pun berdiskusi. Hari Darmawan mengatakan, “Enam bulan terakhir ini retailer tengah kesulitan. turun sekitar 30 persen.”ujarnya. Hal tersebut dibenarkan oleh semua pemasok. Namun, eksekutif puncak Matahari bilang, “ Kami tidak mengalami penurunan, tetapi kami benar-benar harus bekerja sangat keras, melakukan banyak hal supaya tidak turun.”

Kompetisi di Tanjakan

Demikianlah pengusaha Indonesia di tanjakan. Sebagian besar terkapar, sebagian lagi bisa hidup normal dengan segala manuver agar tidak kesulitan, namun akan ada yang melesat mengambil bahu jalan dengan lampu hazard.

Pengusaha-pengusaha muda Indonesia yang belum berpengalaman juga akan banyak yang terkapar kalau berbisnis “as usual”. Apalagi bila berpikir enak, seakan akan ekonomi bagus akan terbawa arus.

Ekonomi Indonesia per desember 2011 adalah ekonomi yang bagus, dengan peringkat rating kredit yang menggiurkan para investor asing, dengan cadangan devisa sebesar USD 114 miliar dan APBN Rp. 7.200 triliun. Dana-dana investasi akan mengalir deras, rupiah akan menguat. Tahun ini diperkirakan tumbuh 6,5 persen. Ini benar-benar ekonomi tanjakan yang menggiurkan, tetapi bisa melenakan.

Lantas, kesulitan-kesulitan yang akan muncul jarang sekali dibicarakan. Saya coba bantu anda dengan lima masalah berikut ini yang perlu Anda antisipasi.

Pertama, tanjakan itu berarti kompetisi melewati puncak. Semua orang ingin ikut ke atas, membuat tanjakan menjadi crowded. Pemain-pemain asing berdatangan. ASA ( semacam lembaga keuangan mikro dari Bangladesh) segera berdiri di sini. Retailer-retaiker Thailand dan Malaysia juga masuk. Merek-merek bahan bangunan, jaringan restoran, konsultan asing dan segala pemain tumplek di Indonesia.

Kedua, kompetisi berarti perebutan pasar, Anda berbagi kue. Kuenya membesar, tetapi yang berebut lebih cepat lagi membesarnya. Akibatnya, pelanggan Anda bisa berkurang.

Ketiga, kompetisi berarti variety, pasar akan punya variety atau variasi pilihan yang sangat luas. Itu berarti, kota-kota besar tradisional (ibukota provinsi) yang selama ini Anda bidik akan sumpek. Konsumen punya uang, tetapi pilihannya jadi lebih luas, yang dibelanjakan jadi sedikit-sedikit, sementara di daerah pinggiran Aceh, Papua, Mataram dan Bengkulu terjadi sebaliknya.

Keempat, kompetisi mendorong harga turun kepada bawah. Hanya yang melakukan restruksturisasi biaya produksilah yang akan menang.

Kelima, kompetisi juga berarti rebutan sumber daya, mulai bahan baku sampai buruh. Ketika di satu sisi usaha Anda ditekan oleh persaingan harga, Anda juga harus menaikkan tawaran agar buruh Anda tidak hengkang.

Jadi, apa yang harus dilakukan?itulah pekerjaan rumah Anda. Ada sejuta pilihan, dan pilihan yang tepat akan mengantarkan Anda ke jalan yang benar. Pemilihan yang tepat bukan hanya bertahan, melainkan menang. Jangan lagi terkapar, apalagi di tanjakan. Inilah zona baru yang saya sebut sebagai The Cracking Zone. Tumbuh, tapi penuh jebakan.

 

Baca Juga Rhenald Kasali :

Korupsi Orang Kampus

Better Generation

Sekolah 5 Senti

Dilema Proyek